• IKOM

    Muda, Lugas, Berkualitas

  • CONTACTS

Time To Guide Day 2

BANDUNG – Acara TTG atau Time To Guide hari kedua dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 2021. TTG merupakan rangkaian kaderisasi yang berorientasi pada keorganisasian, jurnalistik, dan juga penyiaran. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi ini diikuti oleh seluruh mahasiswa baru Ilmu Komunikasi UPI angkatan 2021, sebagai peserta. Dengan adanya peraturan pemerintah saat ini, program kaderisasi dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting.

Kegiatan dimulai dari pukul 08.00, yang ditandai oleh masuknya para peserta ke dalam room pada platform Zoom Meeting. Kemudian acara dibuka oleh Sifa Rahma dan Firan dari bidang PSDO sebagai moderator acara TTG hari kedua ini dengan melabeli diri sebagai “moderator kece”. Sebelum memasuki sesi pematerian mengenai Broadcasting, para moderator di awal acara melakukan bounding dengan peserta TTG. Mereka memberikan pertanyaan kepada beberapa peserta mengenai siapa kakak tingkat yang mereka wawancarai saat mendapati tugas feature minggu sebelumnya.

Kang Fachmi Maulana (Staff TV UPI) berkesempatan untuk menjadi pemateri pada sesi pematerian pertama di hari TTG kedua ini. Kang Fachmi menyampaikan hal – hal yang bersangkutan dengan dunia broadcasting, terutama televisi. Mulai dari definisi dari broadcasting, berbagai posisi dan profesi yang ada di dunia televisi, hal – hal yang berkaitan dengan program televisi, dan tidak lupa memberikan contoh kasus yang terjadi pada saat ini. Pematerian yang dilakukan oleh Kang Fachmi ini disampaikan dengan baik. Hal ini ditandai oleh adanya feedback yang bagus dari para peserta TTG.

 Beragam pertanyaan yang ditujukan untuk Kang Fachmi ini yang pertama disampaikan oleh Annisa Bunga, peserta TTG Angkatan 2021, yang memulai diskusinya dengan pertanyaan “akankah televisi terus menerus eksis ketika teknologi terus menerus mengalami perkembangan?” kemudian selain ditanggapi oleh kang Fachmi, pertanyaan ini ditanggapi juga oleh Muhammad Rifqi. Menurut Rifqi, “radio dan televisi ini bagaikan rumah, terdapat element of surprise dari keduanya. radio dan tv juga jangkauannya luas jadi kemungkinan eksistensi radio dan tv itu ga akan mati paling fluktuasinya aja yg turun naik”.

Selain Muhammad Rifqi dan Annisa Bunga, masih banyak pertanyaan yang datang dari peserta, Mereka bertanya mengenai konten penyiaran, kualitas penyiaran di Indonesia saat ini, konglomerasi media, hingga pertanyaan mengenai keinginan untuk melakukan revolusi industri penyiaran. Kang Fachmi kemudian menutup diskusi pematerian ini dengan pernyataan  “Kita belum bisa mengubah hal itu sekarang, namun hal itu bisa kita ubah suatu saat nanti.”

Setelah pematerian mengenai Broadcasting, dilanjut dengan pematerian kedua yang disampaikan oleh Kang Lufi Rulimansyah mengenai Etika dan Produksi Konten. Sesuai dengan tema yang tertera, pematerian yang disampaikan oleh Kang Lufi ini mencakup berbagai hal tentang etika dan produksi konten. Mulai dari pembahasan mengenai, peran broadcaster dalam dunia broadcasting secara detail P3SPS, bentuk karya yang memiliki hak cipta, berbagai macam program siaran, dan tahap produksi konten . Tidak jauh berbeda dengan pematerian sebelumnya, antusiasme dari para peserta TTG di pematerian kedua ini pun masih terlihat cukup baik.

Sebelum dilakukannya pematerian ketiga, para moderator melakukan ice breaking dengan para peserta TTG. Kegiatan ice breaking ini dilakukan dengan permainan tebak lagu. Hal ini membuat para peserta semakin bersemangat untuk melanjutkan acara. Kemudian setelah sesi ini berakhir, pematerian ketiga dilakukan. Kang Miftahudin Ibrahim membahas materi mengenai ILM atau Iklan Layanan Masyarakat. Kang Miftah menyampaikan beberapa hal penting tentang iklan layanan masyarakat ini. Diantaranya mengenai perbedaan yang signifikan antara ILM dan iklan komersial, kemudian rangkaian yang baik untuk membuat iklan, peran – peran iklan, dan masih banyak lagi. Ia juga mengatakan bahwa pentingnya iklan layanan masyarakat itu sebagai opsi medium dari komunikasi, titik perubahan masyarakat, dan sebuah sarana untuk memanusiakan manusia. Kang Miftah menutup pemateriannya dengan sebuah ungkapan “pesan yang efektif adalah pesan yang dapat kita terima tanpa kita harus berpikir keras untuk menerima pesan tersebut. Melalui iklan layanan masyarkat, edukasi  tidak akan terasa seperti pembelajaran formal, edukasi akan mengalir sendirinya dengan dibalut ide kreatif.”

Setelah sesi pematerian di TTG Day 2 berakhir, para moderator kembali melangsungkan sebuah permainan yang bernama “TTG” atau “tembak, tembak, gubrak”. Game ini diikuti dengan antusias yang tinggi dari para peserta TTG 2021. Dari seluruh peserta yang dibagi menjadi 10 kelompok, mereka menunjukan kesungguhannya dalam mengikuti game ini. Selama sesi game dilakukan, para peserta begitu aktif memperlihatkan dukungan mereka bagi kelompoknya masing – masing melalui fitur chat yang ada di platform Zoom Meeting. Sesi permainan ini menjadi penutup dari rangkaian acara TTG hari kedua. Akhir dari acara ini kemudian ditutup dengan pemberian tugas oleh Gesa Fadhilah sebagai komandan lapangan.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *