• IKOM

    Muda, Lugas, Berkualitas

  • CONTACTS

WhatsApp Anxiety, Bisa Diatasi!

Semenjak pandemi Covid-19 berlangsung, banyak kegiatan yang dilakukan secara daring seperti bekerja dan sekolah. Para pekerja yang melakukan Work From Home (WFH) dan pelajar atau mahasiswa yang melakukan School From Home (SFH) mengerjakan berbagai tugas mereka menggunakan bantuan perangkat hardware dan software.

Dilansir dari Hootsuite 2020, Indonesia memiliki sekitar 174,5 juta pengguna internet dan 160 juta pengguna aktif media sosial. Dari jumlah tersebut, WhatsApp menduduki peringkat pertama kategori Social Networking Site (SNS) dengan total 84% dari total populasi. WhatsApp yang merupakan aplikasi untuk melakukan panggilan, mengirim dan menerima pesan, dokumen, foto, serta video tentu memudahkan pekerjaan orang yang melakukan WFH dan SFH. Namun, disisi lain serangan pesan masuk yang bertubi-tubi bisa membuat seseorang mengalami gangguan kecemasan. Kondisi inilah yang disebut dengan WhatsApp Anxiety.

Banyak orang menilai bahwa Work From Home (WFH) dan School From Home (SFH) merupakan hal yang menguntungkan karena bisa menghemat biaya transportasi, menghemat waktu dan tenaga, serta sifatnya yang fleksibel. Alih-alih menggunakan kata “fleksibel”, waktu saat WFH dan SFH justru jadi tidak menentu. Tidak sedikit pekerja yang harus stand by setiap saat karena bisa dihubungi sewaktu-waktu oleh atasan untuk mengerjakan sesuatu. Tidak sedikit juga pelajar dan mahasiswa yang meluangkan waktu lebih karena adanya pergantian jam belajar mengajar.

Selain itu, jumlah chat masuk yang berlimpah mungkin juga akan membuat kamu cemas karena berpikir kamu ketinggalan pembahasan yang penting. Ketika di malam hari kamu mendengar notifikasi WhatsApp dari smartphone, saat itu juga kamu akan merasa was-was memikirkan apa hal penting yang terjadi di kantor, sekolah, atau kampus mu. 

Bahkan, dilansir dari Halodoc, terdapat ‘aturan sosial’ yang tidak tertulis pada WhatsApp yang memaksa kamu untuk membalas pesan segera selepas membacanya. Hal itu karena terdapat centang biru yang memberi tahu orang lain jika pesan telah dibaca. Saat kamu tidak selalu ada untuk membalas pesan WhatsApp yang masuk dengan cepat, kamu mungkin akan menjadi gelisah karena takut dicap sebagai orang yang tidak komunikatif atau sering disebut slow response.

Ketika rasa gelisah kerap kali muncul saat melihat notifikasi pesan WhatsApp, jangan terlalu khawatir. Dikutip dari halodoc, yuk coba atasi dengan langkah berikut:

  • Matikan notifikasi WhatsApp. Cara ini akan membuat kamu tidak akan mendengar bunyi atau notifikasi ketika ada pesan yang masuk. Sedikitnya kamu akan terhindar dari bayang-bayang pesan yang membuatmu merasa tertekan untuk membalasnya.
  • Cabut izin aplikasi. Melalui cara ini kamu tidak perlu menghapus WhatsApp untuk me-nonaktifkan aplikasi tersebut. Kamu dapat memeriksa pesan di lain waktu ketika aplikasi dibuka. Dengan ini kamu dapat mengendalikan penggunaan aplikasi WhatsApp.
  • Jangan terlalu sering memeriksa WhatsApp. Mulailah detoksifikasi digital, cobalah untuk berpartisipasi dalam WhatsApp atau apapun hanya sekali sehari. Hindari juga memeriksa WhatsApp sebagai aktivitas pertamamu ketika bangun di pagi hari.

Dilansir dari forum diskusi Quora, salah seorang pengguna mencurahkan pengalamannya terkait rasa cemas ketika menggunakan aplikasi WhatsApp. Ia sampai harus menghapus aplikasi WhatsApp agar terhindar dari bayang-bayang perasaan tertekan. Rasa cemas dan khawatir biasanya akan datang ketika pesan tak kunjung dibalas meski sudah dibaca, terlebih jika pesan tersebut adalah sesuatu yang penting. Selain itu, obrolan yang terjalin di aplikasi WhatsApp hanya terjadi ketika ada perlu saja, hal inilah yang membuat rasa cemas itu menghampiri akibat kurangnya perhatian.

Di masa pandemi seperti saat ini, bukan hanya bekerja yang harus dilaksanakan dari rumah, melainkan kegiatan perkuliahan pun tak lepas dari aktivitas jarak jauh. Beberapa diantaranya pasti membuat suatu grup di WhatsApp untuk memudahkan dalam menyampaikan pesan dari dosen kepada para mahasiswa. Namun, tidak menutup kemungkinan WhatsApp Anxiety ini dapat menyerang para mahasiswa, seperti rasa cemas akan tidak dibalasnya pesan penting dari dosen, teman satu kelompok yang slow response, bahkan hingga sulit memahami materi yang disampaikan oleh dosen hanya melalui WhatsApp Group.

Untuk itu, agar hubungan dengan teman-temanmu tetap berjalan dengan baik, pun kamu tidak harus terlalu cemas dalam menerima pesan WhatsApp perlu adanya detoksifikasi digital. Alihkan sementara kegiatanmu pada hal-hal yang kamu sukai, seperti membaca buku, menonton film, berkebun, atau membantu orang tua. Dengan begitu kamu dapat mengembalikan mood dan semangat mu dalam menjalani Work From Home (WFH) atau School From Home (SFH). 

Copywriter:

Dinda Dania Nadine Asy Syifa

Ditha Noviariani

Editor : M. Fathan Haidar J

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *