• IKOM

    Muda, Lugas, Berkualitas

  • CONTACTS

“Ketika Musik Indie Perlahan Menarik Millenial Indonesia”

Musik merupakan salah satu elemen yang dipercaya mampu memberikan hiburan yang utuh terhadap manusia. Sebagian kalangan menilai musik merupakan jiwa, yakni ketidaklepasan antara dirinya dengan musik. Ia menganggap bahwa musik sangat memiliki pengaruh akan jiwanya sehingga apapun yang terjadi akan berdasar pada bagaimana letak musik sesuai jiwanya. Namun sebagian kalangan justru menganggap bahwa musik hanyalah sebagai pengiring belaka ketika manusia hendak melaksanakan sesuatu. Hal ini merupakan sebuah perkembangan yang terjadi musik di masa kontemporer. Berbeda dengan alasan seseorang menggunakan musik dimasa lalu yaitu adalah sebagai pelengkap religiusitas.

Sejak abad ke 2 dan ke 3 sebelum masehi, musik sudah mulai diperkenalkan. Namun pada masa ini, alunan musik tidak seindah seperti yang berkembang saat ini. Musik pada zaman dahulu digunakan sebagai alunan pengiring ibadah di gereja. Namun, musik tidak langsung berkembang menjadi sebuah melodi, melainkan hanya berbentuk sebuah kata-kata yang dirangkai berdasarkan doa di gereja. Selama belum mengalami perkembangan, musik belum menemukan rangkaian bunyi yang indah dan teratur hingga pada masa Tiongkok dan Mesir melihat potensi akan musik sendiri dari perkembangan keibadatan yang ada di gereja. Pada masa ini, Tiongkok dan Mesir mulai mengenalkan melodi musik yang dinamakan Hibrani. Hingga pada masa ini, Tiongkok dan Mesir mulai menerapkan tangga nada Hibrani sebagai pengiring gereja. Perubahan ini seakan menjadi angin segar bagi perangkat agama dan akhirnya tangga nada ini tersebar luas ke seluruh Eropa.

Tangga nada Hibrani memang dikenalkan oleh alat musik langsung yaitu biola dan cello. Namun semakin berkembangnya tangga nada hibrani, akhirnya tercipta alat musik pengiring lain yang dinamakan Orgel. Pada masa ini pula, musik semakin mengalami perkembangan yaitu banyak bermunculan komponis-komponis ternama dari berbagai penjuru dunia seperti dari negara Jerman, Prancis, Italia, dan juga Rusia. Akibat dari semakin berkembangnya musik, akhirnya lahir berbagai alat musik dan juga komponis-komponis baru dengan tujuan ingin membuat musik semakin berkembang.

Memasuki abad pertengahan Eropa, musik semakin mengalami perkembangan dan perubahan. Hal ini ditunjukkan dengan lahirnya berbagai genre musik baru yaitu Barok dan Rokoko. Namun, kedua aliran musik ini tidak cukup memiliki eksistensi yang lama. Pada tahun 1750, kedua jenis musik ini mulai kehilangan eksistensinya akibat dari gagasan musik yang kian meledak. Berbagai tokoh musik dalam abad ini berlomba-lomba untuk membuat perkembangan lagi terhadap musik, pelopor musik pada abad ini adalah Gullanme Dufay yang berasal dari Prancis, dan juga Adam De La Halle yang berasal dari Jerman. Seakan membuat musik semakin ramah didengar oleh manusia, akhirnya di abad pencerahan Eropa Musik semakin berevolusi dan tokohnya pun semakin banyak seperti halnya Giovanni Gabrieli berasal dari Italia, Galilei berasal dari Italia, Claudio Monteverdi berasal dari Venesia, dan juga Jean Baptiste Lully dari Prancis.

Tidak sampai disitu, ternyata musik masih mengalami revolusi yang sangat pesat dengan ditandai munculnya berbagai genre musik yang masih bertahan hingga sekarang. Seperti hal nya musik Indie yang akrab disebut oleh millenial. Musik Indie sebetulnya bukan merupakan sebuah genre, melainkan sebuah ideologi musik yaitu “Independen” yang berarti memiliki kebebasan dan sendiri. Ideologi musik indie bahkan masih bertahan hingga saat ini dan dijadikan sebagai ciri khas yang membedakan musik ini dengan jenis musik yang lain.

Musik indie berawal dari Amerika pada tahun 1920 ditandai dengan dibentuknya label musik kecil yang menaungi musisi bernama Elvis Presley dengan genre Rock ‘n Roll. Berlanjut pada era tahun 70an, diciptakan generasi dalam sejarah musik indie yang bernama Flower Generation. Nama ini diciptakan sebagai semboyan untuk musik indie dan sebagai landasan dari musik indie yaitu mampu membuat gaya sendiri, label sendiri, dan juga musik sendiri. Dari ideologi inilah sekelompok remaja laki-laki berfikir untuk membentuk sebuah band bergenre rock ‘n roll dan diberi nama Sex Pistols dengan gaya yang khas dan nyeleneh serta mampu mengundang kritik sosial dari masyarakat. Penikmat musik indie masih sedikit bahkan sebagian kalangan tidak menyukai musik jenis ini karena dinilai aneh dan tidak enak didengar.

Negara Prancis yang juga memilih musik indie sebagai salah satu genre musik ini untuk pertama kalinya musisi indie mengadakan sebuah pentas kecil terletak di lorong kecil kereta api dengan tujuan ini menentang pola seni dari seniman pada umumnya. Namun di negara Prancis, musik indie memiliki istilah lain yang juga awal mula dari terkenalnya musik indie di Indonesia dengan sebutan musik “Underground”. Musik Indie sebetulnya merupakan transformasi dari varian atau subkultur musik Punk dari segi lirik dan penggunaan nadanya.

Setelah kian berkembangnya musik indie, akhirnya banyak melahirkan musisi musisi ternama yang hingga kini masih terjaga popularitasnya seperti The Smiths dan Joy Division. Musik indie kemudian dibuat semakin populer oleh kedua band yang terkenal sejak tahun 90an yaitu Nirvana dan Radiohead. Radiohead pada tahun 2007 melakukan perilisan album berjudul Independent In Rainbow dengan pembeli bebas ingin membayarnya ataupun tidak. Setelah popularitas yang dimiliki oleh band-band indie semakin terpancar, munculah beberapa tawaran dari label musik besar untuk mengajak band tersebut agar bergabung dengannya. Namun, dilema yang ada pada musisi indie adalah terletak pada ideologi. Jika band tersebut memutuskan untuk bergabung dalam sebuah label musik maka bukan lagi disebut sebagai musik indie. Perbedaan yang paling mendasar antara musik indie dengan musik dari label ternama adalah terletak pada kebebasan berkarya. Beberapa band indie yang diajak kerjasama dengan label musik besar antara lain adalah Muse, Coldplay, Keane, dan The Killers.

Sama halnya dengan perkembangan musik indie di Indonesia. Tahun 1970an, musik indie mulai masuk ke Indonesia. Hal ini ditandai dengan dibentuknya berbagai band-band baru seperti Guruh Gipsy, Gang Pegangsaan, God Bless, Giant Step, dan Super Kid. Di Indonesia sendiri, musik indie awalnya lebih dikenal dengan sebutan musik Underground sama halnya seperti di Prancis. Hal ini karena aliran musik band di Indonesia berkiblat pada band di Prancis. Kota di Indonesia yang menjadi pelopor musik underground adalah kota Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, dan Yogyakarta. Aliran band dari kota kota ini sebagian besar menggunakan genre musik metal. Salah satu ciri khas dari musik underground yang berkembang di Indonesia adalah makna yang terkandung dalam lagu tersebut yaitu melibatkan isu sosial dan hal-hal lain yang tidak terdapat pada lagu lagu pada umumnya. Beberapa band indie metal yang berasal dari kota penghasil musik indie berhasil masuk ke jajaran 20 album terbaik versi majalah Rolling Stone tahun 2008. Band-band itu antara lain The S.I.G.I.T, The Brandals, Efek Rumah Kaca, Seek Six Sick, dan juga The Adams. Karena aliran musik indie juga tidak dilabeli oleh produksi musik maka para musisi secara bebas menciptakan lagu dan menyebarkannya bahkan dengan cara cuma-cuma.

Kekhasan yang terkandung dalam musik indie adalah selain dari kebebasan dalam berkarya namun makna dari liriknya pun berisi tentang kritikan sosial dan sindiran. Hal ini dapat dilihat pada salah satu lagu yang diciptakan oleh band indie asal Indonesia yaitu Efek Rumah Kaca dengan lirik “Lugas dan menerkam realitas sosial”, “di udara “ yang bercerita tentang kematian Munir dan “Cinta melulu” tentang sindiran lagu Indonesia yang selalu membahas tentang cinta. Sementara, dalam sejarah musik indie di Indonesia yang menduduki posisi band aliran indie paling sukses adalah band Slank. Hal ini karena Slank berhasil menarik orang sebanyak 400.000 untuk tergabung dalam sebuah komunitas bernama “Slankers”. Hingga masa kini musik indie kian bersinar dan melahirkan musisi musisi handal seperti Arditho Pramono, Pamungkas, The Rain, Mocca, Hivi, dll.

By Febbi dan Onief

Editor : M. Fathan Haidar J

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *