• IKOM

    Muda, Lugas, Berkualitas

  • CONTACTS

COMAGZ #4 Quarter Life Crisis

Ketika memasuki usia 20 tahun, sebagian besar dari kita merasa bahwa bermain-main dan menghabiskan waktu untuk hal yang kurang penting bukan menjadi suatu prioritas lagi. Sebab, terkadang kita merasa bahwa semakin bertambah usia, semakin kita harus berusaha untuk mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Namun, bukannya kita berusaha dengan ekstra, justru sejak itu kita ditemani dengan rasa takut dan cemas akan masa depan. Selalu bertanya tanya, akan jadi apa saya kelak? Akankah saya menjadi orang yang sukses? Membanggakan orang tua? Apakah pilihan saya saat ini adalah pilihan yang tepat untuk masa depan saya? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang selalu mengganggu pikiran kita. Bahkan tak jarang kita kemudian membandingkan diri dengan orang lain. Dia sudah sukses di usia muda, lalu saya kapan? Masih berkuliah dan hidup masih bergantung dengan orang tua. Namun, sayangnya, hal itu hanya sebatas ketakutan. Bukannya menemukan solusi dari rasa takut dan cemas, melainkan semakin bingung mengenai apa yang sedang terjadi pada diri kita sendiri.

Tapi, mungkin saja yang sedang terjadi pada diri kita adalah bahwa kita sedang menuju pada fase Quarter Life Crisis.

Situs The Muse, mendeskripsikan Quarter Life Crisis sebagai “Periode pencarian jati diri yang intens dan stress yang terjadi di pertengahan usia 20-an hingga awal 30-an”. Terjadinya Quarter Life Crisis ini biasanya dipicu oleh perasaan tidak percaya diri atau insecure, meragukan diri sendiri, mengalami kecemasan, kehilangan motivasi, dan biasanya perasaan tersebut berhubungan dengan kebingungan kita akan masa depan.

Banyak orang berpendapat bahwa fase ini biasanya terjadi pada usia 25 tahun keatas. Namun, ternyata banyak anak-anak muda yang bertemu dengan fase ini saat mereka berusia 20 tahun. Bahkan, ada yang mengalami fase ini saat usia 18 tahun. Contohnya, kalian mungkin tahu artis Indonesia Rachel Amanda, ia pernah bercerita di media sosial Instagramnya bahwa ia sudah merasa mengalami fase Quarter Life Crisis pada saat usia 18 tahun. Artinya, fase ini tidak memiliki patokan umur yang pasti. Bisa saja seseorang mengalami fase ini saat mereka berusia dibawah 20 tahun, usia 20 tahun, 25 tahun, atau bahkan ketika berusia 30 tahun. Kunci terpenting adalah bagaimana kita dapat memahami fase ini dan tahu apa yang harus kita lakukan dibanding hanya cemas dan ketakutan.

Dilansir dari The Guardian, Quarter Life Crisis memengaruhi sekitar 86% generasi millennial. Kebanyakan dari mereka mengatakan, bahwa selama berada di dalam fase Quarter Life Crisis, mereka merasa bahwa kesehariannya selalu dilingkupi oleh perasaan tidak aman, kecewa, kesepian, depresi, dan tidak berguna

Banyak orang sangat takut pada fase Quarter Life Crisis ini. Seringkali muncul pertanyaan seperti “apakah saya akan mengalami fase Quarter Life Crisis?” dan juga “kapan fase Quarter Life ini akan muncul di hidup saya?”

Untungnya, fase Quarter Life Crisis ini bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Fase ini normal. Tidak perlu mencemaskan apakah kita bisa melalui fase ini atau tidak. Sama seperti fase lainnya dalam kehidupan, fase Quarter Life Crisis menunjukkan bahwa ini hanyalah fase yang harus kita lalui untuk dapat membawa kita ke fase kehidupan selanjutnya.

Lalu, bagaimana caranya menghadapi Quarter Life Crisis?

Pertama, kenali dirimu lebih dalam. Kelebihan, kekurangan, dan apa yang kita sukai dan tidak sukai. Dengan mengetahui hal tersebut, kita dapat lebih paham mengenai apa yang ingin kita jalani kedepannya. Ini juga membantu kita menentukan pilihan hidup sendiri tanpa ejaan orang lain, meskipun saran dan diskusi dari orang terdekat tetap dibutuhkan.

Kedua, membuat perencanaan. Setiap orang memang perlu memiliki mimpi atau impian, tapi untuk mencapai impian itu, kita juga perlu langkah-langkah untuk mencapainya. Contohnya, kamu ingin melanjutkan pendidikan S2 setelah lulus kuliah, maka kamu harus membuat perencanaan apa yang harus kamu lakukan menjelang kamu lulus S1.

Ketiga, sadar bahwa setiap orang datang dan pergi. Saat kita mengalami fase Quarter Life Crisis, kita akan merasa bahwa kita harus bisa berdiri di atas kaki sendiri. Inilah yang harus kita pahami, bahwa setiap orang pasti datang dan pergi. Entah itu keluarga, teman dekat, ataupun pasangan. Pada fase, ini kita harus belajar menerima kenyataan di hidup, yang akan berdampak pada kesadaran diri kita untuk tidak menyia-nyiakan mereka yang ada, dan berjuang agar dengan ada atau tidaknya mereka, kita tetap harus melanjutkan hidup.

Keempat, batasi penggunaan media sosial. Memang dampak media sosial itu tergantung pada pribadi setiap orang; bisa positif maupun negatif. Namun, saat mengalami Quarter Life Crisis, tak jarang seseorang merasa dirinya kurang berharga. Bisa saja karena posting-an teman-temannya yang terlihat bahagia, ataupun unggahan orang lain yang jauh lebih sukses dibanding dirinya. Ya solusinya adalah dengan mengurangi penggunaan media sosial jika memang dirasa media sosial makin memperburuk psikis kita.

Terakhir, tell yourself it’s normal. Ingat bahwa kita sedang melalui tahap kehidupan yang sementara.

Di fase Quarter Life Crisis ini, kita beralih dari yang tadinya seorang anak, yang selalu diberitahu tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, menjadi orang dewasa yang harus memikirkan dan memutuskan segalanya sendiri. Kita harus melakukan yang terbaik untuk melalui fase ini, karena inilah caranya agar kita dapat menemukan siapa diri kita sebenarnya.

Jangan pernah merasa sendirian ketika berada dalam fase Quarter Life Crisis. Fase ini normal, bukan hanya kita sendiri yang mengalami. Namun orang lain juga sama-sama mengalaminya. Hanya saja, cara menghadapi Quarter Life Crisis setiap orang berbeda-beda. Jenna Gausman berkata “The best and first thing you should do if you’re feeling stuck and unhappy is to start talking to your friends”.

Content writer: Sania Majida & Nita Rosita

Editor: Arina Attamimy

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *