• IKOM

    Muda, Lugas, Berkualitas

  • CONTACTS

GOMAGZ #3 Kenali ‘Zoom Fatigue’, Gejala Kelahan Akibat Penggunaan Video Conference Secara Berlebih.

Oleh : Vina Amalia & Nadya Shaffira

Hadirnya teknologi video conference atau dapat kita kenal dengan video call seperti Zoom, tampaknya menjadi sebuah solusi baru untuk melakukan pekerjaan jarak jauh di era pandemi COVID-19. Namun nyatanya, penggunaan video conference yang berlebihan di tengah pandemi tak jarang kian mengganggu baik secara fisik maupun mental manusia. 

Walaupun aktivitas video conference terkesan ringan dan hanya perlu dilakukan dengan menghadap layar komputer ataupun gadget, bagi Anda yang terlalu sering menggunakan fitur tersebut nyatanya dapat mengalami gejala kelelahan secara berlebih. Fenomena kelelahan akut ini kerap dijadikan sebagai istilah baru yang marak dikenal dengan istilah ‘Zoom Fatigue’.

Sebenarnya, Zoom Fatigue merupakan salah satu dari banyak frasa yang tak terpikirkan untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Hampir setahun sejak hadirnya pandemi yang kian mengglobal, aplikasi Zoom Meeting dengan cepat menjadi salah satu alternatif aplikasi yang diminati sebagai sarana berinteraksi virtual secara real time. Baik digunakan sebagai sarana rapat kerja, penggunaan pembelajaran daring, acarapernikahan, hingga berbagai acara besar lainnya yang terpaksa dilakukan di tengah pandemi.

Saat ini kita dengan sangat mudah menggunakan Zoom meeting untuk bekerja, diikuti dengan beberapa kegiatan virtual seperti webinar dan lainnya. Tentunya menampilkan kemudahan yang tak mengharuskan kita untuk keluar rumah. Hadirnya penggunaan teknologi video conference pun merupakan salah satu implementasi dari social distancing yang dilakukan guna mengurangi interaksi secara berlebih di tengah badai pandemi kini.

Dengan hadirnya akses cepat dan real time kepada rekan kerja, keluarga, dan teman mungkin menawarkan kenyamanan pada awal Maret dan April lalu. Namun seiring berjalannya waktu, Anda mungkin kurang antusias menggunakan fitur video conference secara berlarut-larut. Ini hampir dilakukan setiap hari sebagai kebutuhan dasar untuk melakukan beragam kegiatan pekerjaan dan proses belajar mengajar bagi guru maupun siswa. Kemudian lama kelamaan, ketika kegiatan tersebut rutin dilakukan, tentunya dapat memicu terjadinya gejala Zoom Fatigue.

 Lantas, Apa yang dimaksud dengan Zoom Fatigue?

Zoom fatigue merupakan suatu gejala kelelahan, gelisah, atau cemas ketika melakukan kegiatan video conferencing. Tentunya, gejala ini tidak terbatas pada platform Zoom semata, namun untuk semua aplikasi video conference lainnya. Meski memiliki kesamaan gejala seperti stress, Zoom fatigue memiliki perbedaan mendasar dengan cabin fever. Cabin fever disebabkan apabila kita terlalu lama terkurung (di rumah), sementara Zoom fatigue disebabkan karena terlalu banyak pertemuan yang dilakukan secara daring. Namun keduanya memiliki penyebab yang sama, yaitu karena stress.

Terdapat beberapa gejala Zoom fatigue yang diketahui, antara lain kurangnya fokus dalam menjalani sesuatu, kemampuan untuk mengolah informasi kian melemah, kehilangan motivasi, seringkali merasa cepat lelah, otot-otot terasa pegal, sangat mudah tersinggung dan terdistraksi, sulit membuat keputusan, koordinasi antara tangan dan mata menurun, kemudian melambatnya reflek terhadap sebuah respons.

Faktor pemicu Zoom Fatigue

Menurut ilmuwan seperti Jeremy Bailenson dalam (Wiederhold, 2020, hlm 1), selaku profesor dan direktur Lab Virtual Interaksi Manusia, Universitas Stanford, menyatakan bahwa teknologi dapat mengganggu metode komunikasi manusia secara rumit, dan telah diatur secara cermat selama berabad-abad untuk membantu manusia bertahan hidup. Salah satu problematika hadirnya teknologi video conference, bahwa komunikasi daring walaupun sangat berguna namun tidak sepenuhnya sinkron. Memang benar bahwa hadirnya komunikasi daring menampilkan beragam kemudahan, salah satunya dapat menampilkan sesuatu hal yang terjadi dalam waktu nyata (real time). Namun dalam kenyataannya, ada sedikit penundaan respons atau delayed feedback saat seseorang melakukan suatu tindakan dan khalayak mengamatinya.

Kemudian, menurut Conty (2012) dalam situs Psychiatric Times menyatakan bahwa sebagian besar komunikasi sebenarnya tidak disadari dan nonverbal. Hal ini dikarenakan isi emosional dengan cepat diproses melalui isyarat sosial seperti sentuhan, perhatian, dan postur tubuh manusia. Isyarat nonverbal nyatanya tak hanya digunakan untuk memperoleh informasi tentang orang lain, tetapi juga secara langsung digunakan untuk melakukan proses adaptif dan terlibat dalam komunikasi timbal balik yang terjadi dalam hitungan milidetik. Namun seperti yang kita ketahui dalam fitur video conference, sebagian besar isyarat ini sulit untuk divisualisasikan. Karena lingkungan yang sama tidak dibagikan (membatasi perhatian bersama). Kemudian ekspresi wajah dan tubuh mungkin tidak sepenuhnya diperhatikan oleh komunikan. Tanpa bantuan isyarat bawah sadar yang telah kita andalkan sejak lahir untuk menilai satu sama lain secara sosioemosional dan ikatan, diperlukan upaya kompensasi dan kognitif emosional. Dan sebenarnya, beberapa kondisi tersebut pun membuat orang tidak nyaman dalam berkomunikasi secara virtual.

Selain itu, pernyataan sebelumnya pun diperkuat dengan studi yang dilakukan oleh akademisi Jerman pada tahun 2014 yang menunjukkan bahwa keterlambatan dalam sebuah telepon ataupun sistem konferensi dapat membentuk pandangan negatif terhadap orang lain. Bahkan delayed feedback sebesar 1,2 detik dapat membuat seseorang berpikir negatif, dengan memandang responden lainnya sebagai manusia yang kurang ramah atau tak fokus.

Adapun faktor tambahan lainnya yang memicu seseorang mudah terkena Zoom Fatigue menurut Shuffler dalam situs BBC Worklife (2020), bahwa ketika kita secara fisik menggunakan kamera, kita dengan sangat sadar merasa diawasi oleh responden lainnya. Kemudian, menurut Shuffler akan sangat sulit bagi manusia untuk tidak melihat wajahnya sendiri apabila mereka dapat melihatnya di layar. Tentunya hal ini sangat berdampak pada kecemasan akan hal yang mereka lakukan ketika di depan kamera, dan berpengaruh pada kelelahan secara fisik dan mental manusia itu sendiri.

Tips Mengatasi Gejala Zoom Fatigue

            Gejala pada saat mengalami zoom fatigue tentu saja tak dapat dihindari, mengingat kini meeting online sudah menjadi makanan sehari-hari, termasuk untuk mahasiswa sebagai pengganti pertemuan tatap muka. Lantas bagaimana cara meeting online kita berjalan dengan lancar meski berdampingan dengan hadirnya zoom fatigue setelahnya?

  1. Coba mengganti device agar lebih nyaman.

Jika Anda terbiasa melakukan pertemuan daring dengan menggunakan perangkat laptop, cobalah sesekali menggunakan ponsel pintar agar dapat memposisikan tubuhmu senyaman mungkin. Ditambah, mengganti perangkat akan membantu memiliki sedikit gerakan dibanding terus-menerus terpaku menatap layar.

  • Atur jadwal istirahat sesekali.

Menatap layar selama berjam-jam memang tidak dianjurkan dan dapat mengganggu kesehatan, baik pada organ mata maupun organ tubuh lainnya yang bekerja dipapar radiasi. Pada saat melakukan video conference, tidak ada salahnya mengambil waktu beberapa menit untuk meregangkan otot-otot—seraya tetap mendengarkan tentunya. Peregangan otot sesekali di tengah video conference dapat menyegarkan kembali tubuh agar terhindarkan dari gejala zoom fatigue.

  • Minum air putih secukupnya

Air putih memiliki banyak sekali manfaat bagi tubuh. Dalam melakukan video conference, rasa lelah dan letih dapat di atasi dengan meminum air putih. Air putih juga akan membantu menyegarkan mata yang terus-menerus harus menatap layar.

  • Menggunakan kacamata anti radiasi

Mata adalah organ yang paling bekerja pada saat melakukan video conference. Gejala zoom fatigue dapat bermula dari mata yang lelah yang kemudian naik ke kepala. Lensa anti radiasi diciptakan untuk membantu mengoptimalkan mata penglihatan pada saat dihadapkan pada layar komputer dan juga mencegah radiasi berlebihan yang dipaparkan di layar.

Dalam kondisi pandemi yang belum membaik ini, maka kita semua harus masih memiliki semangat untuk melakukan hal-hal yang serba daring, termasuk melakukan video conference ini. Semoga informasi ini dapat membantu, ya. Selamat berdaring ria!

Referensi

BBC Worklife. (2020). Video chat is helping us stay employed and connected. But what makes it so tiring – and how can we reduce ‘Zoom fatigue’? Retrieved from https://www.bbc.com/worklife/article/20200421-why-zoom-video-chats-are-so-exhausting

Conty L, Dezecache G,  et al. (2012). Early binding of gaze, gesture, and emotion: neural time course and correlates. J Neurosci., 32(13):453.

Wiederhold, B. K. (2020). Connecting through Technology during the Coronavirus Disease 2019 Pandemic: Avoiding “zoom Fatigue.” Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 23(7), 437–438. https://doi.org/10.1089/cyber.2020.29188.bkw

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *