• IKOM

    Muda, Lugas, Berkualitas

  • CONTACTS

COMAGZ #2 Toxic Positivity: Sikap Positif Yang Berlebihan

Oleh : Khotifah Rahmawati, Maristha Corinthiens, dan Sufiana Rachman.

Toxic Positivity adalah suatu kondisi yang dialami seseorang yang selalu beranggapan bahwa dengan berpikir positif semua masalah akan dapat terlewati dengan baik. Seseorang yang percaya pada toxic positivity akan terus berusaha menghindari emosi negatif, padahal perasaan tersebut dihasilkan oleh otak untuk menandakan bahaya. Jika terus dibiarkan, kamu akan kesulitan untuk menilai masalah yang terjadi dan menganggap jika masalah yang terjadi akan terlewati dengan sendirinya.

Namun selain itu juga, kita ini bisa jadi adalah sumber dari toxic positivity disaat kita selalu memaksakan orang untuk melihat sisi positif dan sisi baik dari hal buruk yang telah terjadi.  Padahal, mungkin saja temannya tersebut hanya ingin meluapkan perasaannya, bukan untuk mendapatkan nasehat yang positif. Dengan begitu, dirinya tidak dapat mengekspresikan emosi yang dipendamnya dan mungkin berdampak buruk juga pada akhirnya.

Pernahkah kalian sebagai mahasiswa mendengar curhatan seseorang terkait sulitnya dunia perkuliahan dan mengeluh? Curhatan seperti ini sering kali mengundang respon “Harus bersyukur bisa kuliah, yu semangat pasti bisa!”, Terdengar seperti kalimat positif yang mengajak untuk bangkit bukan? Tapi sadarkah kita, kalimat sederhana itu bisa saja menjadikan seseorang semakin kecil diri, respon seperti itu bahkan bisa memberi kesan bahwa curhatan seseorang itu ringan dan mudah, tanpa kita sadari kita telah menghiraukan apa yang dirasakan oleh orang itu.

Alih-alih merespon dengan membanding-bandingkan pengalaman, lebih baik kita menananyakan apa yang membuatnya merasa sulit dan bagaimana perasaannya saat ini. Karena tidak semua orang butuh disemangati ketika mereka menceritakan permasalahannya.

Menjadi orang yang dipenuhi pikiran positif adalah suatu hal yang baik. Namun, bukan berarti kita harus mengabaikan semua perasaan negatif yang ada pada diri kita. Bahkan, pikiran positif yang berlebihan ternyata bisa menimbulkan dampak negatif! Loh kok bisa ya? Segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan rupanya memang tidak baik. Misalnya saja, olahraga yang seharusnya meningkatkan stamina bisa menimbulkan peradangan pada otot jika dilakukan secara berlebihan. Hal tersebut berlaku juga pada pikiran positif.

Pikiran positif yang berlebihan dan tidak dikelola dengan benar justru akan berubah menjadi toxic. Kira-kira apa saja ya dampak negatif yang akan terjadi jika kita mengalami toxic positivity?

  1. Berbohong pada diri sendiri

Tanpa kita sadari, toxic positivity menyebabkan kita berbohong pada diri sendiri. Kita membohongi diri kita dengan terus berpikiran positif meskipun sebenanya kita sedang tidak baik-baik saja. Hal tersebut biasanya terjadi karena kita malu untuk mengakui emosi negatif yang ada pada diri kita. Padahal perlu diketahui bahwa emosi negatif merupakan hal yang wajar dan kita tidak perlu malu akan hal itu. Jika kepada diri sendiri saja kita tidak bisa jujur, maka bagaimana kita bisa jujur kepada orang lain.

2. Stress dan tertekan

Saat kita menyangkal perasaan negatif dan ditutupi dengan pikiran positif, perasaan negatif itu sebenarnya tidak akan hilang. Perasaan tersebut akan terus ada dan semakin bertambah banyak jika kita terus memendamnya. Jika hal tersebut terus dilakukan, maka perasaan negatif itu akan meledak di kemudian hari. Bukannya menghilangkan perasaan negatif, toxic positivity justru akan menyebabkan stress yang semakin besar pada diri seseorang. Oleh karena itu, kita perlu mengekspresikan emosi kita agar merasa jauh lebih baik dan lega.

3. Menyebabkan ketidakpekaan

Seseorang yang mengalami toxic positivity bisa saja menjadi tidak peka terhadap lingkungan sekitar. Dikutip dari Scienceofpeople.com, terdapat satu studi di tahun 2008 yang dilakukan kepada anak-anak. Peneliti meminta mereka untuk menemukan bentuk sederhana dalam suatu figure. Hasil dari penelitian tersebut menyatakan bahwa anak-anak netral atau sedih lebih cepat dan lebih banyak menemukan figure daripada anak-anak yang lebih bahagia. Hal tersebut membuktikan bahwa keadaan netral atau sedih ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi penyebab suasana hati kita turun dan mencoba menyingkirkannya secepat mungkin.

Selain menjadi korban dari toxic positivity, bukan tidak mungkin bahwa kitalah yang menjadi sumber toxic positivity bagi orang lain. Namun jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, karena terkadang kita sendiri tidak menyadari bahwa respon yang kita berikan bisa menjadi beban dan membuat orang lain merasa kecil. Dalam mendengarkan kita harus memiliki rasa empati yang tinggi, tidak perlu terus menerus mendorong seseorang yang sedang bercerita untuk jangan mengeluh dan bersemangat, kita bisa memberikan kesempatan untuk ia berkeluh kesah dan menumpahkan isi hatinya tanpa menghakimi.

Karena tidak semua orang butuh disemangati, terkadang disemangati tidak memberi efek dan malah menambah rasa beban. Ucapan-ucapan kita yang seakan-akan menyuruh untuk mensyukuri keadaan dan membanding-bandingkan pengalaman bisa menjadi hal yang menyakitkan bagi seseorang. Menurut Wood, dkk. dalam jurnal Psychological Science (2009) bahwa ujaran-ujaran positif yang ditujukan untuk seseorang yang memiliki penilaian diri rendah malah memberi efek negatif. Beberapa tips berikut ini bisa digunakan untuk kita yang tidak ingin menjadi korban dan pelaku toxic positivity:

  • Hindari mengabaikan emosi

Merasakan dan mengakui apa yang sedang dirasakan dan mengakui semua emosi kita, baik atau buruk itu tidak apa-apa. Ada baiknya meluapkannya dengan berbagi perasaan tersebut kepada orang lain, berbincang bersama atau menulisnya dalam secarik kertas untuk meluapkan emosi tersebut.

  • Dengarkan perasaan orang lain, meskipun perasaan itu berbeda dengan perasaanmu

Setiap orang berhak atas perasaannya sendiri. Jangan mempermalukan orang lain karena emosinya. Sangat penting untuk mengetahui bahwa orang lain mungkin tidak mengatasi hal-hal dengan cara yang sama seperti dirimu.

  • Tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja sekarang – pada kenyataannya, itu normal

Sebagai manusia kita tidak bisa memilih perasaan dan emosi yang ingin kita miliki, bukan seperti itu. Merasakan semua bentuk perasaan dan emosi itu adalah alami, senang atau sedih, menyenangkan atau menyedihkan adalah hal yang alami dirasakan semua manusia. Kita bisa menerima perasaan tulus apapun yang muncul dan kemudian membiarkannya berlalu dan berjalan dengan sendirinya.

Referensi :

Joanne V. Wood, W.Q. Elaine Perunovic, John W. Lee. 2009. Positive self-statments: power for some, peril of others. Physchological Science. 20 (7).

Editor : M. Fathan Haidar J

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *