• IKOM

    Muda, Lugas, Berkualitas

  • CONTACTS

COMAGZ #1 Overthinking : Antara Diri dan Pandemi

Oleh : Azis S.H, Ajeng Megapratiwi, Grace Mikha

Satu dari empat orang di dunia mengalami gangguan mental selama beberapa waktu di hidupnya. Gangguan kesehatan mental dialami sekitar 450 juta manusia saat ini, bahkan hampir 1 juta orang melakukan bunuh diri setiap tahunnya. Pembuka ini tidak ditulis secara sembarang, semua terdapat dalam publikasi World Health Organization (WHO) karena jika kita berbicara perihal kesehatan mental, maka kita diharuskan menanggapinya secara serius, bukan sekedar topik pembicaraan lelucon semata.

Beralih ke Indonesia, saat WHO menetapkan bahwa standar jumlah tenaga ahli psikolog dan psikiater adalah 1:30 ribu orang, atau 0,03 per 100.000 orang, fakta di lapangan masih jauh sekali dari kata “cukup”. Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, baru memiliki sekitar 451 psikolog atau 0,14 per 100.000  orang dan 773 psikiter yang berarti baru mencapai angka 0,32 per 100.000 orang.

Saat ini, dikarenakan pandemi, mau tidak mau setiap pelajar di Indonesia serta instansi pendidikan yang ada diharuskan untuk beradaptasi pada kondisi yang ada, yaitu melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Terlepas dari apaun bentuk maupun metode pembelajaran jarak jauh yang dilakukan, nyatanya para pelajar keberatan bahkan tidak bahagia terhadap pembelajaran jarak jauh.

Survei yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tentang pelaksanaan PJJ di 20 provinsi dan 54 kabupaten dan kota menjaring angka 73,2% pelajar di Indonesia  dari 1.700 responden  mengatakan terbebani karena beban tugas yang banyak dan harus dikerjakan dalam waktu singkat dengan minimnya materi yang diberikan. Pembelajaran jarak jauh yang diberikan jelaslah teramat berpengaruh pada kesehatan fisik maupun mental pelajar Indonesia, mulai dari stres, jatuh sakit, hingga burnout.

Tak jarang beberapa dari mereka mengalami overthinking yang pada akhirnya justru menimbulkan kelelahan secara fisik maupun mental. Sehingga hal tersebut akan berpengaruh pada produktivitas hariannya. Adapun overthinking yang dimaksud ialah kondisi dimana proses berpikir seseorang dilakukan secara berlebihan dan intens. Hal ini sepadan dengan pendapat Eli Marlina, dosen Psikologi UIN Bandung, orang yang memiliki kebiasaan overthinking disebut sebagai overthinker. Ikomers, apakah kalian termasuk sebagai overthinker? Untuk mengenalinya, mari kenali beberapa ciri umum yang dimiliki seorang overthinker seperti berikut ini :

  1. Lebih banyak berpikir alih-alih melakukan

Overthinker cenderung mempertimbangkan solusi secara kompleks, hal ini didukung dengan sifat ‘ingin sempurna’ yang dimiliki, tak lama kemudian muncul solusi baru yang semakin rumit dan membingungkan. Tanpa sadar membuat overthinker terjebak dalam labirin pikirannya sendiri, sehingga memperlambat pengambilan keputusan.

2. Mempertanyakan segala hal

Overthinker cenderung kritis, bahkan ketika belum terjadi sesuatu. Baik hal kecil maupun hal besar tetap menggangu pikiran. Juga selalu dihantui pertanyaan “bagaimana kalau..?”, bahkan di tengah-tengah waktu bersama keluarga ataupun kegiatan liburan, sehingga cukup menguras energi.

3. Mengalami gangguan tidur

Karena berlarut dalam pikirannya sendiri, menyebabkan waktu istirahat menjadi tidak berkualitas, bahkan kesulitan untuk tidur. Bila sudah mencapai titik ini, overthinker perlu berkonsultasi kepada seorang ahli. Dalam kondisi pandemi, kita diharuskan melakukan kegiatan secara daring. Khususnya para pelajar yang tidak memiliki pilihan lain untuk mengikuti pembelajaran daring. Overthinking yang tak terbendung, akan sangat berdampak bagi kehidupan. Sejauh apa sih dampaknya?

4. Memengaruhi produktivitas

Walau situasi pandemi, kita tetap dituntut untuk menyelesaikan tanggung-jawab dengan baik. Seperti yang Ikomers ketahui, overthinking memperlambat kinerja seseorang, karena proses pengambilan keputusan sangat lama. Jika berkelanjutan, kemungkinan buruk akan menimpa overthinker, salah satunya hasil kerja tidak memuaskan.

5. Mempengaruhi kesehatan

Tentu saja hal ini bisa terjadi, dilansir dari Laman Web Jurnal Pos Media, overthinking merupakan bagian dari psychological disorder, bila berlebihan akan berdampak pada kesehatan mental: anxiety disorder, dan analysis paralysis. Tak hanya itu, overthinking juga memengaruhi kesehatan fisik. Dilansir dari Laman Web Halodoc, overthinking yang berkelangsungan menyebabkan gangguan pencernaan, gangguan fungsi otak, gangguan jantung, dan penurunan kekebalan tubuh.

Mindfulness dan Stoisisme : Latih Cara Berpikir, Kendalikan Overthinking!

Sebelumnya sudah dijelaskan keterkaitan antara overthinking dengan kesehatan mental. Perlu kiranya untuk mengendalikan hal tersebut guna meminimalisir beragam dampak yang terjadi. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk mencintai diri sendiri dengan menjaga kesehatan mental. Beberapa orang mengalami kesulitan dalam mengendalikan pikirannya sendiri. Mereka tenggelam dalam pikirannya, melangkah jauh, berangan, memikirkan masa depan, atau bahkan terperangkap di masa lalu. Pada prinsipnya, apapun yang sedang dipikirkan olehnya, mereka melupakan satu hal yang pasti bahwa saat ini mereka sedang hidup di masa kini.  Apa yang harus dihadapi dan disadari adalah hal-hal yang terjadi saat ini, bukan di masa lalu ataupun masa depan. Mindfulness hadir membantu siapa saja yang kesulitan mengendalikan pikirannya.

Seperti yang dikatakan oleh Adjie Santosoputro seorang praktisi mindfulness, bahwa pikiran dapat diolah dengan melatih berpikir mindfulness. Adapun yang dimaksud dengan mindfulness sendiri yaitu, melatih pikiran agar sadar penuh hadir utuh disini-kini. Dengan demikian, diri pun akan dipenuhi dengan rasa syukur atas apa yang terjadi saat ini. Tubuh dan pikiran menikmati apa saja yang terjadi pada masa kini. Sehingga tak ada waktu untuk memikirkan atau mencemaskan hal-hal yang telah terjadi di masa lalu ataupun di masa depan. Meskipun demikian, bukan berarti tak mempersiapkan masa depan melainkan tak memikirkan dan mencemaskannya secara berlebihan.

Selain mindfulness, hal lain yang bisa dilakukan untuk mengolah pikiran ialah menjalankan filsafat stoisisme. Tak seperti steriotip pada umumnya bahwa filsafat ialah ilmu yang rumit dan bisa membuat siapa saja yang mempelajarinya menjadi gila. Jika filsafat ini dijadikan sebagai way of life, maka kehidupannya akan selalu bahagia dan terus merasa cukup. Mungkin terdengar mustahil sebab berbagai permasalahan hidup akan terus berdatangan. Disinilah kelebihan stoisisme, ia berperan sebagai tameng untuk melindungi dari hal-hal yang mendistrak kebahagiaan. Stoisisme meletakan kebahagiaan pada diri masing-masing individu dan tak bergantung pada hal-hal yang berada di luarnya. Prinsip dikotomi kendali diperkenalkan oleh stoisisme untuk melatih cara berpikir dan berfokus pada hal-hal yang berkaitan dengan diri sendiri, termasuk apa saja yang hanya bisa dikendalikan oleh diri sendiri.

Dikotomi kendali mengajarkan bahwa dalam hidup, terdapat dua hal yang sangat berseberangan dan tak bisa dipaksakan satu dengan lainnya, yaitu apa saja yang bisa dikendalikan dan apa saja yang tak bisa dikendalikan. Jika memaksakan untuk mengendalikan apa yang sebenarnya tak bisa dikendalikan, maka hidup pun tak lebih berharga dari seorang budak yang terus mengemis kebebasan pada orang lain. Jika kebahagiaan diletakkan pada orang lain, maka timbul pertanyaan, kapan kita akan merasa bahagia? Setiap orang cenderung berubah, lantas, sejauh mana kita bisa memaknai arti kebahagiaan yang katanya digantungkan pada orang lain?

Dengan demikian, timbul harapan bahwa dengan melatih cara berpikir dan mengolah pikiran dapat menghentikan kebiasaan overthinking. Berlatih untuk berpikir mindfulness dan menerapkan prinsip dikotomi kendali filsafat stoisisme menjadi terobosan untuk mencintai diri sendiri dengan mengendalikan pusat kebahagiaan, yakni rasio atau pikiran. Menempatkan tubuh dan pikiran di masa kini-disini serta mengendalikan apa saja yang bisa dikendalikan oleh diri menjadi penting untuk menjaga kebahagiaan di tengah pandemi.

Editor : Fathan Haidar

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *