• IKOM

    Muda, Lugas, Berkualitas

  • CONTACTS

COMAGZ #13 : Zero Waste Fashion – Trendy Tanpa Merusak Lingkungan

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Oleh : Mutiara Ramadhanti

Pencemaran lingkungan semakin parah dan tanpa kita sadari, saat ini limbah berasal dari hampir setiap aspek kehidupan. Tidak terkecuali dari bidang fesyen yang turut berkontribusi besar dalam pencemaran lingkungan. Fesyen yang selama ini menjadi kebutuhan sandang kita merupakan salah satu industri penghasil limbah terbanyak di dunia. Limbah dihasilkan dari proses pewarnaan, pembuatan pola pada bahan, sampai pada pemakaiannya. Limbah industri tekstil selain jumlahnya yang banyak, juga sangat berbahaya. Kandungan karsinogenik dalam limbah tekstil yang dihasilkan dari proses pewarnaan dapat meningkatkan resiko kanker bagi manusia. Selain itu, sisa potongan bahan yang tidak terpakai dan tidak dimanfaatkan dengan baik akan berakhir menjadi tumpukan sampah.

Akibat memburuknya kondisi alam, kini gerakan peduli lingkungan semakin marak digaungkan. Di bidang fesyen ada zero waste fashion sebagai upaya meminimalisir pencemaran tekstil. Zero Waste fashion merupakan salah satu jenis mode atau konsep busana. Mode ini dikatakan ramah lingkungan karena limbah yang dihasilkan sangat minim atau bahkan tidak ada. Mulai dari pembuatan sampai pasca pemakaiannya mode ini tidak memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Mode ini juga termasuk bagian dari konsep sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan.

Keberadaan zero waste fashion sebenarnya sudah diterapkan sejak lama. Namun, penggunaan istilahnya sendiri baru belakangan ini santer terdengar. Bahkan di Indonesia, baju tradisional seperti baju Kurung dari Melayu, baju Lambung dari Lombok dan penggunaan kain sebagai pakaian bawahan termasuk bentuk fesyen ramah lingkungan. Tidak hanya di Indonesia, pakaian khas Jepang, Kimono; pakaian tradisional India, Sari; serta pakaian Chiton dari Yunani juga menghasilkan sangat sedikit limbah. Kain-kain tradisional ini dibuat dari bahan yang tidak merusak alam, seperti penggunaan pewarna alami serta pembuatan pola dan potongannya tidak menyisakan banyak limbah. Seperti yang diutarakan oleh Angela Chrestella (22), seorang desainer muda asal Bandung yang pernah belajar tentang efektivitas penggunaan kain, “Kita tidak boleh boros dalam menggunakan kain, diusahakan setiap potongan kain berawal dari pinggir kain yang sudah terpotong, tidak tiba-tiba ke bagian tengah kain dan juga sisa kain bisa digunakan untuk bagian lain atau perca”.

Mode zero waste fashion dipopulerkan oleh Holly McQuillan dan Timo Rissanen. Timo Rissanen adalah seorang asisten profesor Fashion Design and Sustainability di The New School for Design, New York. Sedangkan, Holly McQuillan, seorang peneliti dari Universitas Boras dengan penelitiannya yang berjudul “Zero Waste Design Thinking”. Pada penelitiannya beliau menekankan pada metode pengurangan limbah tekstil dengan upaya zero waste pattern atau pola tanpa limbah. Pola tanpa limbah adalah sebuah bentuk pola pakaian yang memanfaatkan seluruh permukaan bahan atau kain tanpa ada bagian yang terbuang. Mereka bergabung dan membuat beberapa jurnal penelitian serta sebuah buku berjudul “Zero Waste Fashion Design”. Dalam bukunya, mereka membahas mulai dari bagaimana konseptualisasi zero waste fashion, faktor ekonomi, pemilihan bahan, pembuatan pola, pemotongan bahan sampai dijadikan sebuah metodologi guna kebutuhan pembelajaran.

Proses pewarnaan yang benar pun akan memberi pengaruh signifikan dalam mengurangi pencemaran lingkungan. Dengan mengelola limbah pewarna pakaian sebelum dibuang ke perairan akan meminimalisir polusi dan tetap menjaga ekosistem di perairan. Seperti dilansir dari detik.com, sekelompok mahasiswa ITS meneliti bagaimana pewarna pakaian metilen biru dapat dibuang secara aman ke perairan. Dari penelitian tersebut mereka menemukan ZIF-8 yang berfungsi untuk menyerap senyawa tertentu dalam zat warna. Sehingga ketika limbah pewarna dibuang ke perairan sudah tidak mengandung zat-zat berbahaya. Upaya lain yang bisa dilakukan yaitu dengan substitusi dari pewarna buatan ke pewarna alami. Karena zat warna yang berada dalam pewarna alami tidak akan merusak alam. Beberapa contoh pewarna pakaian alami, yaitu daun tarum untuk menghasilkan warna biru, kunyit untuk warna kuning, daun jambu biji untuk warna hijau dan kulit manggis untuk mendapatkan warna merah keunguan.

Zero Waste Fashion kini sudah mulai merambah ke dunia mode komersial. Fashion show dikenal sebagai ajang untuk menampilkan karya-karya para designer sekaligus sarana promosi produknya. Seperti yang dilakukan oleh Angel (22) yang menampilkan kostum dengan konsep sustainable fashion untuk fashion show-nya. Dengan mengusung tema isu pencemaran perairan Antartika, “blooming fitoplankton” atau meledaknya populasi fitoplankton yang mengganggu ekosistem. Pakaian yang ditampilkan bukan hanya sebuah pakaian ramah lingkungan, namun juga berfungsi sebagai kampanye dan edukasi. Angel (22) pun menuturkan bahwa untuk konsep zero waste fashion sendiri masih kurang diminati karena biaya pembuatannya yang mahal sehingga harga jualnya pun tinggi di pasaran. Selain itu, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan yang masih kurang menyebabkan jumlah penjualan pakaian ramah lingkungan rendah.

(Proses pembuatan pakaian berkonsep sustainable fashion –
Sumber: dokumentasi pribadi)

Masyarakat sendiri bisa berkontribusi untuk mengurangi limbah fesyen dengan membeli pakaian di thrift shop dan preloved. Thrift shop dan preloved dapat diartikan sebagai kegiatan belanja yang menghindari pemborosan karena barang-barang yang dijual adalah barang bekas. Maka dari itu, harga yang ditawarkan pun jauh lebih murah dibandingkan harga pasaran. Kegiatan ini juga termasuk dalam zero waste fashion. Pakaian yang telah diproduksi akan terus terpakai meski berpindah tangan dari seseorang ke orang lainnya hingga pakaian tersebut rusak. Dapat dikatakan satu pakaian dapat memenuhi kebutuhan sandang 3-4 orang atau bahkan lebih.

Seperti yang dilakukan oleh Nada (20), seorang penjual preloved yang mengatakan bahwa awalnya ia bingung karena lemarinya sangat penuh dan akhirnya memutuskan untuk menjual baju-bajunya “Dampak positif preloved bagi lingkungan misalnya ketika ada seseorang yang ingin membeli pakaian dan kebetulan aku menjual barang preloved yang sesuai dengan barang yang dicari, maka orang tersebut tidak perlu membeli barang baru. Berarti baik aku dan orang itu sama-sama berkontribusi untuk meminimalisir penggunaan tanaman-tanaman yang menjadi bahan baku pembuatan pakaian itu”, tutur Nada (20). Hal senada dilontarkan pula oleh Sekar (20) yang semenjak kuliah gemar membeli pakaian di thrift shop. Selain karena preferensi fashion, Sekar (20) juga mengatakan, “Dengan adanya thrift shop atau preloved, kita bisa mengurangi sampah fabric. Karena baju yang tadinya dibuang, malah dijual lagi dan ada minat beli”.

Editor : Namira Fazrin

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *