• IKOM

    Muda, Lugas, Berkualitas

  • CONTACTS

COMAGZ #12 : Berkelah Menjajaki Gua Jepang Dan Gua Belanda

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Oleh : Robbi Aryanto & Lulu Zahra

Kaki mulai melangkah di atas tanah Tahura, udara yang segar seakan memanjakan paru-paru kita. Sebelum melanjutkan ke lokasi utama, kita menikmati alam ciptaan Yang Maha Kuasa, sembari bersyukur atas kekayaan alam Indonesia. Tahura adalah Taman Hutan Raya di wilayah Dago Pakar, Ir. H. Djuanda  dengan kemiringan 770-1330 mdpl, Tahura yang telah lama di resmikan sejak 14 Januari 1985 oleh Presiden ke-2 yaitu Soeharto. Luas hutan ini sekitar 529,3 Hektar dengan di tumbuhi oleh pepohonan rindang sebanyak 250 pohon mencakup 12 spesies dan 40 famili.

Kedatangan kita di sambut dengan hembusan angin yang sejuk, hanya dengan Rp 15.000 / orang, Kita sudah mendapatkan tiket dengan bonus gelang tali yang unik. Lalu kita disuguhi kesejukan alam dan ketenangan di setiap hembusan nafas. Setiap pandangan mata terdapat pepohonan yang rindang.

Pantas saja udara di Tahura ini begitu segar dan menyejukan, sajian alam yang membuat pikiran menjadi tenang. Karena kelembaban disana sekitar 70% – 90% dengan curah hujan 3000-4500 mL pertahun. Tempat yang cocok untuk berwisata alam, dengan lokasi yang mudah. Tempat yang cocok pula untuk kunjungan wisata bagi anak-anak sekolah untuk mengetahui sejarah yang berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia.

Siapa sangka, di dalam Tahura tersebut terdapat parit yang telah lama di buat sejak zaman penjajahan Belanda pada tahun 1923, untuk digunakan sebagai PLTA sampai sekarang ini. Lokasi turbin listrik terletak di Dago Bengkok yang berjarak sekitar 3 km dari Tahura. Tahura Sendiri menyajikan wisata alam yang indah sekaligus wisata sejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan kemerdekaan Indonesia yaitu Gua Jepang dan Gua Belanda. Setiap wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini akan disediakan pemandu untuk menemani samapi tujuan dan menceritakan tentang kaasan Tahura.

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gua Jepang Terlihat Alami Menambah Kesan Mistis

Perjalanan wisata kita diawali menuju Gua Jepang yang memiliki kaitan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Setiap langkah kita, tak luput dari pemandangan alam yang indah, hingga tak terasa sampailah kita di depan pintu Gua Jepang. Gelap, dingin dan suasana yang mencekam ketika awal memasuki Gua Jepang, terlihat dari bentuk fisik Gua masih sangat asli dan belum mengalami renovasi. Gua Jepang ini memiliki 4 pintu dan terdapat 15 lorong di dalamnya. Gua Jepang di bangun ketika bangsa Jepang masuk ke Indonesia untuk mengambil alih tanah Indonesia.

Gua Jepang ini dibangun dengan tenaga kerja bangsa Indonesia sendiri yang tak asing lagi di telinga kita yaitu Romusha yang berarti kerja paksa, konon tidak sedikit pula korban yang berjatuhan selama pembuatan Gua Jepang ini. Tentunya digunakan untuk basis pertahanan dari bangsa Jepang, tempat menyimpan Peralatan atau logistik, dan juga digunakan untuk komunikasi media Radio.

Semakin dalam memasuki Gua semakin gelap dan dingin, kita melihat setiap sudut gua menyimpan banyak cerita didalamnya, terlihat terdapat empat kamar berpintu untuk beristirahat tentara jepang dimasa itu. Langkah demi langkah kita terus melangkah namun tak sedikitpun rasa pengap dalam gua karena gua yang dibangun memiliki beberapa ventilasi udara yang cukup besar.

Tidak cukup perjalanan sampai di Gua Jepang, rasanya ingin terus melanjutkan perjalanan menuju Gua Belanda yang tak jauh dari Gua Jepang. Melangkahkan kaki untuk terus menikmati kawasan wisata sejarah ini, disetiap perjalanan disuguhi dengan pemandangan alam yang menakjubkan berbagai jenis flora berbaris rapih seperti menyambut para wisatawan yang datang seperti pohon aren, pohon salak, manghuni, pinus, kaliptus dan pohon lainya, tidak lupa disekitar perjalanan menuju Gua belanda terdapat juga beberapa fauna yang terlihat asik bermain berpindah tempat dari pohon satu ke pohon lainya, fauna tersebut adalah tupai dan kera dengan nama latin Makaka yang merupakan sejenis kera dari famili Cercopithecidae.

Dalam perjalanan menuju Gua Belanda terlihat beberapa tempat menambah energi untuk berjalan seperti warung dan cafe unik. Dalam warung dan cafe terlihat menyediakan beberapa sajian makanan dan minuman, cafe yang terlihat juga tampak memiliki nuansa Belanda yang pastinya sangat instagramble,  sehingga dikala lelah melanda kita bisa beristirahat sejenak  diwarung maupun cafe yang ada di sepanjang perjalanan.

Setiap wisatawan yang berkunjung diharapkan untuk terus berhati-hati dalam perjalanan, terlebih jika hujan melanda akan memiliki banyak resiko. Resiko yang terberat adalah  terjebak dalam tanah yang longsor, karena sampai saat ini masih terjadi longsor pada titik – titik tertentu. “kawasan ini tanahnya berjenis andosol, karena kawasan ini hasil dari letusan gunung pasundan dulunya sehingga rawan terjadinya longsor.  Pungkas Herman selaku Pemandu Wisata Tahura.

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gua Belanda yang Megah

Dingin, lembab dan gelap begitulah yang pertama kali di rasakan ketika memasuki Gua Belanda dan kita disambut dengan kemegahan halaman depan gua belanda yang menyatu dengan alam dengan pelataran yang cukup luas, seperti gua jepang ada beberapa orang yang menawarkan senter untuk dijadikan alat penerangan di dalam Gua karena kondisi Gua sangat gelap tak ada satupun penerangan. Senter – senter tersebut disewakan dengan harga Rp 5000 setiap satu senternya. Sama halnya dengan Gua Jepang, Gua Belanda tak kalah mencekam ditambah dengan suhu yang dingin.

Wisawatan dapat melihat perbedaan dengan antara Gua Jepang dan Gua Belanda. Gua Belanda ini terlihat lebih megah karena telah dilapisi dengan semen dan Gua ini juga telah mengalami tahapan renovasi pada 1960. Sama halnya dengan Gua Jepang ketika kita memasuki Gua ini tidak akan terasa pengap karena terdapat pentilasi sirkulasi udara sekaligus lubang alternatif dalam keadaan darurat.

Ketika kita memasuki Gua ini, kita melewati  15 lorong dan dibagi 3 jalur dengan Jalur utama sepanjang 144 meter. Di dalam Gua ini ada sebuah ruangan yang terlihat seperti meninggalkan banyak siksaan dan misteri, ruangan tersebut dipergunakan untuk introgasi, bahkan sebagai tempat penyiksaan dan ruangan sel tahanan yang dengan jarak yang berdekatan. Suasana mistis sangat mendominasi pada area tersebut terkadang rasa takut akan menghampiri kepada siapapun yang menginjakan kakinya dalam ruangan tersebut. Tidak hentinya Pemandu wisata akan selalu memberikan arahan agar terus fokus dalam menelusuri lorong demi lorong dalam gua tersebut. Tak lupa pemandu wisata pun terus memberikan arahan agar kita  tetap fokus dan tak mengosongkan pikiran agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.

Aura mistis memang menyelimuti kedua Gua tersebut namun tak kalah mendominasi adalah kemenarikan tempat tersebut sehingga patut untuk dikunjungi oleh siapapun baik anak kecil hingga orang dewasa. “ya karna tempat ini merupakan salah satu saksi sejarah bagi kemerdekaan indonesia dan lokasinya juga di alam sehingga pas untuk saya dan anak saya kunjungi”. Ujar Ria salah satu pengunjung Gua Belanda. Sehingga dapat disimpulkan bahwa walau terdapat aura mistis namun sejarah yang kuat didalamnya dengan ditambah nuansa alam yang sejuk menjadi sebuah alasan kuat kawasan Gua Jepang dan Gua Belanda untuk dikunjungi. Mengetahui banyak sejarah saksi bisu Gua untuk mencapai Kemerdekaan sekaligus dapat memanjakan mata untuk melihat pemandangan indah nan asri.  

Di tempat manapun kita berpijak, harus tetap menjaga sopan santun dan terus berpikir positif agar alam ikut memberikan aura positifnya pada kita semua.

Editor : Namira Fajrin

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *