• IKOM

    Muda, Lugas, Berkualitas

  • CONTACTS

COMAGZ #10 : Sisi Lain Menuju Tangkuban Parahu

Kawah Upas, Tangkuban Parahu
 (Sumber foto: Dok. Pribadi)

Oleh : Ditha Riani

Berawal dari cerita lepas yang dihimpun selama ini di Kota Bandung, Ibu kota Provinsi Jawa Barat, mengenai salah satu gunung legendaris dari tanah Parahyangan. Cerita lepas itu berkenaan dengan suatu jalur lain yang dapat ditempuh untuk menuju ke puncak gunung legendaris itu. Gunung Tangkuban Parahu berada di daerah Lembang, sekitar 20 km ke arah utara dari pusat Kota Bandung, ketinggian gunung ini mencapai 2.084 meter diatas permukaan laut dan masih berstatus aktif hingga erupsi terakhir terjadi pada bulan September 2019.

Gunung Tangkuban Parahu memiliki 3 kawah utama mempesona yang saling berdekatan. Salah satu kawahnya bernama Kawah Upas, berjarak 1,5 km dari area Kawah Ratu, yang menarik disini ialah penamaan Upas yang sebenarnya menunjukkan daya upas (bisa) alias racun yang dapat mematikan. Nama Kawah Upas menjadi perbincangan menarik ketika tidak banyak wisatawan yang mengetahui akses lain menuju Tangkuban Parahu. Minggu (14/7) lalu kita mulai menelusuri jalur lain untuk bisa menuju ke Kawah Upas, Tangkuban Parahu tanpa bayar tiket masuk sepeser pun.

Rasa penasaran dari cerita tentang jalur lain yang bisa diakses menuju Kawah Upas, Tangkuban Parahu itu membuat kita berpacu dengan waktu. Desa Sukawana, menjadi checkpoint kita untuk bisa menuju Kawah Upas, dengan berbekal GPS dan pengalaman, tanpa pikir panjang  tas gunung kita terisi penuh dengan segala perbekalan yang sederhana.

Hangatnya sinar matahari seakan merestui perjalanan kita kali ini, dimulai pukul 07.00 pagi dengan menggunakan motor bebek kesayangan, dari Kota Cimahi menuju Parongpong hingga memasuki kawasan perkebunan milik PTPN VIII Wilayah Karet dan Wilayah Teh. Jalan berbatu dan menanjak tidak menyulitkan kita untuk terus berkendara. Desa Sukawana terletak berdekatan dengan perkebunan teh milik PTPN VIII. Suasana sejuk nan dingin khas Bandung Barat semakin terasa ketika kita sampai di sebuah warung kecil yang menandakan berakhirnya perjalanan kita menggunakan kendaraan. Lalu lalang motor bebek para pencari rumput liar dengan karung – karung rumput yang terisi penuh serta suara motor cross  pun menjadi pelengkap perjalanan kita.

Perkebunan Teh Sukawana & Pemandangan Gunung Burangrang
(Sumber foto: Dok. Pribadi)

Perjalanan kembali berlanjut. Cuaca panas tidak begitu terasa, sebab jalur yang kita lalui dikelilingi oleh hutan hujan tropis yang membuat suasana menjadi sejuk dan tenang. Siapa sangka! Jalur pendakian kita selanjutnya itu sangatlah sempit, hanya cukup untuk ukuran satu badan orang dewasa saja, alhasil kita pun berbaris melangkah ke depan.

A difficult road often leads you to a beautiful place” terngiang sejenak kalimat legendaris itu, tidak ada tempat menakjubkan yang tidak dilalui dengan jalanan yang sulit. Seketika memacu semangat kita untuk terus berjalan tak sabar hati ingin segera bertemu dengan Kawah Upas yang beracun itu. Tebing – tebing licin berlumut dan kontur tanah berwarna oranye itu membuat sebuah lorong panjang, menanjak pun berkelok – kelok.

Puncak itu sudah ramai dengan para pengendara motor cross yang sedang makan bersama di bibir kawah. Tak lupa aktivitas swafoto yang tak luput dari tatapan kita. Tak banyak udara segar yang bisa dihirup bebas diatas ini, bau belerang yang tidak begitu menyengat dapat dirasakan dari atas sini. Angin berhembus pelan. Terdengar suara dari loud speaker berisi pengumuman yang berasal dari kawasan Kawah Ratu Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu, membuat kita tertawa sedikit mengingat kita masuk ke area Gunung Tangkuban Parahu dari jalur belakang yang tidak membayar tiket masuk, namun ini sepadan dengan perjalanan 5 jam yang ditempuh.

Pukul 14.30 WIB kita memutuskan untuk kembali turun, terlihat kabut yang mengelilingi semakin tebal dan angin mulai bertiup kencang. Cukup puas kita diatas sana, perjalanan ini menjadi pelajaran sekaligus pertanyaan baru, akankah kita dapat kembali lagi kesini dengan cerita baru? Waktu turun gunung tentunya berbeda dengan waktu mendakinya. Perjalanan berakhir pukul 17.00 WIB dengan udara yang sangat dingin menusuk tulang, tidak ada rasa lelah, gerah maupun capek, yang ada hanyalah rasa kepuasan bersama dinginnya Sukawana.

Let’s find and explore! Cerita akan tetap menjadi cerita sampai kamu membuktikannya sendiri.

Editor : Namira Fajrin

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *