• IKOM

    Muda, Lugas, Berkualitas

  • CONTACTS

SEMINAR DAN TALKSHOW POST THE POSITIVE: KOMUNIKASI DAN PEMASARAN DIGITAL

Dinda Maulina sedang memaparkan materinya dalam acara Posi+ive : Post The Positive, yang diselenggarakan di Bookstore FIP pada Selasa (19/3/2019).

Oleh: Ninda Muflihuna

BANDUNG – Tepat pada Selasa (19/3/2019), Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi atau biasa disebut Himikasi mengadakan sebuah seminar dan talkshow. Acara ini menghadirkan beberapa pembicara yang sudah cukup dikenal banyak orang khususnya para milenial dan juga pengguna sosial media.

Diberi nama “Posi+ive: Post The Positive”, seminar dan talkshow ini membahas mengenai komunikasi dan pemasaran digital. Narasumber dalam kegiatan ini adalah Dinda Maulina yang berprofesi sebagai Instargam influencer. Ia sudah memiliki lebih dari 380 ribu pengikut dan mulai menekuni profesinya sejak 2015 lalu. Kemudian, ada juga Vira RL, seorang youtuber yang memulai kontennya di dunia online games pada 2014 dengan jumlah subscriber lebih dari 15 ribu. Saat ini, ia mulai ikut terjun ke dunia Instagram dengan lebih dari 50 ribu pengikut. Kemudian, pembicara ketiga adalah Chyntia Thessalonika, selaku CEO Prahawa, . Prahawa sendiri adalah komunitas yang berjalan di bidang Media Literasi. Prahawa berdiri sejak 2018. Komunitas ini sudah mengedukasi dua sekolah mengenai programnya tersebut. Komunitas ini juga berkolaborasi dengan komunitas media literasi lainnya, yaitu Eye On Media.

Seminar dan talkshow yang berlokasi di Bookstore Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia ini dimulai pukul 15.30 WIB. Acara ini dibuka langsung oleh Ketua BEM Himikasi, Riko Purbowo. Kemudian, dilanjutkan oleh pertunjukan musik oleh Commband sebagai persembahan awal sebelum pemaparan informasi dari ketiga narasumber.

Diawali oleh pembicara pertama, yaitu Chyntia Thessalonika. Ia memaparkan materi terkait kondisi pengguna sosial media atau internet di Indonesia saat ini. Ia juga memaparkan banyak contoh kasus dari efek menyimpangnya penggunaan sosial media saat ini yang dapat berakibat pada hal buruk lainnya. Efek ini memungkinkan terjadinya sebuah masalah yang semakin besar jika tidak ditindaklanjuti, khususnya edukasi pada para pengguna sosial media dan internet itu sendiri.

Setelah seminar, acara dilanjutkan dengan talkshow bersama Dinda Maulina dan Vira RL. Sebagaimana yang diketahui banyak orang bahwa para pembicara ini sudah banyak dikenal. Mereka kini menjadi sosok yang digemari banyak orang di sosial media, khususnya di Instagram dan Youtube.

“Menjadi seorang public figure tidaklah semudah dan seenak yang banyak orang pikirkan. Sama seperti hakikat manusia lainnya, mereka juga merasakan sedih ketika banyak dikomentari pedas dan senang ketika mendapatkan pengakuan dari pekerjaannya. Ujar Dinda Maulina saat talkshow berlangsung.

Menurut kedua narasumber dalam acara Posi+ive ini mengatakan bahwa ketika kita akan membuat sebuah konten yang diperuntukkan dalam kurun waktu jangka panjang, tetaplah jadi diri sendiri dan melakukan hal yang kita sukai dan minati. Agar pekerjaan tersebut dirasa bukan sebagai beban, tetapi sebagai penyalur dan pengasah apa yang kita punya. Berbicara mengenai Haters pun, Dinda dan Vira setuju jika sebagai influencer, mereka dituntut untuk memiliki mental yang lebih kuat. Mereka juga mengatakan bahwa kita harus terus memperlihatkan keunikan masing-masing agar berbeda dengan konten milik orang lain. Ketika membagikan sebuah konten, kita memerlukan beberapa tahap seperti validasi informasi yang mana kita tidak bisa begitu saja memberikan sebuah informasi tanpa di saring terlebih dahulu. Kita juga harus memilih mana informasi yang siap diberikan kepada publik atau di simpan sendiri, karena sosial media juga bisa menjadi boomerang kepada penggunanya.

“Influencer dituntut memberikan positive vibes, biasanya saya memberikan dampak positif tersebut melalui sharing di DM Instagram atau memberikan edukasi dan informasi melalui konten.” Ujar Dinda Maulina saat ditanyai tentang bagaimana ia memberikan dampak positif kepada pengikutnya di sosial media.

Ditanyai mengenai seberapa sulit untuk menjadi seorang influencer, ia menjawab bahwa menjadi seorang influencer di jaman sekarang itu tidaklah sulit. Terlebih dengan banyaknya saran dan cara yang dapat diketahui melalui platform google atau youtube.

Selama ada usaha pasti bisa dilakukan jaman sekarang itu. Mengenai menjanjikan atau tidak profesi influencer di sosial media ini tergantung pada masing-masing creator, karena sejatinya akan selalu dibutuhkan pengikutnya selama tentunya memberikan apa yang pengikut tersebut butuhkan entah secara visualisasi, informasi dan lain halnya.Ucap Vira.

Dinda dan Vira mengungkapkan juga tentang semakin sulitnya mengatur waktu. Baik untuk pekerjaan dan kebutuhan mental, kebutuhan akan hiburan off line dan tanggung jawab pendidikan yang sedang dijabani kedua narasumber ini.

Banyak informasi dan saran langsung dari para pembicara terkait komunikasi dan pemasaran digital, mengenai bagaimana media begitu banyak memuat konten. Para pembicara mengatakan bahwa sebagai pengguna sosial media dan atau media lainnya, kita sudah seharusnya memilih dan memilah apa yang akan kita terima sebagai informasi dan apa saja yang menjadi hiburan dan lainnya. Ungkapan tersebut juga menjadi penutup dari kegiatan Posi+ive ini yang pastinya telah memberikan manfaat untuk kita semua khususnya pengguna sosial media untuk lebih bijak dalam penggunaan media.

Editor : Ochy Nandia R

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *